Pertempuran Iwo Jima

Peperangan di Iwo Jima adalah peperangan
yang terjadi di pulau Iwo Jima antara tentara Amerika dan tentara
Jepang. Peperangan itu berlangsung mulai dari tanggal 19 Febuari 1945
hingga 26 Maret 1945. Meskipun kekalahan tentara Jepang telah dapat
diprediksi sebelum perang dimulai, namun tentara Jepang tidak ingin
begitu saja menyerahkan Iwo Jima kepada Amerika. Hal ini dikarenakan Iwo
Jima merupakan salah satu titik strategis bagi negara Jepang. Apabila
tentara Amerika berhasil merebut Iwo Jima, maka dapat dipastikan tentara
Amerika akan lebih mudah di dalam menyerang daerah Jepang lainnya. Hal
ini jugalah yang membuat Amerika gigih untuk merebut pulau ini.
Peperangan
itu berakhir dengan kemenangan di tangan tentara Amerika, seperti yang
telah diprediksikan sebelumnya. Kekalahan tentara Jepang disebabkan oleh
perbedaan teknologi dan keuangan yang mencolok antara negara Jepang dan
negara Amerika. Tentara Jepang tidak memiliki teknologi dan peralatan
sebaik yang dimiliki oleh tentara Amerika. Selain itu, tentara Jepang
juga tidak memiliki tempat untuk mundur sehingga tidak mungkin untuk
melakukan serangan balasan kepada tentara Amerika. Pada akhir perang,
kematian tentara Jepang mencapai angka 17,000 orang sementara tentara
Amerika hanya kurang lebih sepertiga dari jumlah itu, yakni 6,822 orang
meskipun jumlah tentara Amerika yang menderita luka – luka adalah 19,217
orang. Secara keseluruhan jumlah korban pada tentara Amerika lebih
banyak daripada jumlah korban pada tentara Jepang (meski dengan jumlah
korban meninggal yang lebih banyak pada tentara Jepang namun hanya pada
peperangan ini sajalah jumlah korban pada tentara Amerika pernah
melampau tentara Jepang).
Kematian prajurit Jepang bukan hanya
disebabkan oleh prajurit Amerika secara langsung, melainkan juga
disebabkan oleh kode etik bushido yang mereka miliki dan adanya
propaganda yang mengisukan bahwa prajurit Amerika adalah prajurit yang
bengis dan kejam serta suka menyiksa tentara Jepang yang menyerah atau
pun tertangkap. Hal itu menyebabkan banyak prajurit Jepang yang memilih
untuk melakukan bunuh diri daripada harus menyerahkan diri atau
tertangkap prajurit Amerika.
Bushido (武士道), artinya jalan
ksatria, adalah kode etik samurai yang berkembang pada masa pemerintahan
feudal di Jepang. Kode etik ini diresmikan pada masa pemerintahan
Tokugawa. Bushido mengajarkan keberanian untuk membela kerajaan/negara
dan kaisar hingga mati. Nilai – nilai yang dipercayai terkandung di
balik kode etik ini adalah : kesetiaan, kehormatan, kepatuhan, tanggung
jawab, bakti,dan pengorbanan diri.
Peperangan di Iwo Jima ini
diabadikan oleh seorang fotografer perang bernama Joe Rosenthal dalam
fotonya yang berjudul “Raishing of the U.S. Flag”. Foto tersebut
menggambarkan 6 orang prajurit Amerika yang mendirikan bendera Amerika
di gunung Suribachi pada tanggal 23 Febuari 1945 Meskipun foto tersebut
baru diambil sehari setelahnya dan bukan menggunakan bendera yang
pertama sekali dikibarkan oleh tentara Amerika.
Foto tersebut
lantas menjadi sebuah foto yang monumental bagi negara Amerika mengenai
peperangan di Iwo Jima. Foto tersebut diproduksi oleh berbagai media
massa di Amerika. Penduduk Amerika seakan tidak pernah bosan karenanya.
Roosevelt, presiden Amerika pada saat itu, melihat hal itu sebagai
sebuah ide yang tepat untuk tema tur penggalangan dana yang akan
dilakukan (bond tour). Tur tersebut berhasil menggalang dana sebesar 24
miliar dolar (pada tahun 1945) yang merupakan penggalangan dana terbesar
dalam sejarah Amerika.
Sebelum peperangan, Jendral Tadamichi
Kuribayashi ditugaskan untuk mempertahankan Iwo Jima. Jumlah prajurit
Jepang yang dipimpin oleh Jendral Kuribayashi kurang lebih 18,000
orang. Sementara jumlah prajurit yang dikerahkan oleh tentara Amerika
adalah 70,000 orang. Jendral Kuribayashi melakukan evakuasi terhadap
penduduk yang berada di Iwo Jima, yang berarti bahwa Ia akan
mempertahankan Iwo Jima hingga titik darah penghabisan. Jendral
Kuribayashi menyadari bahwa Jepang tidak mungkin memenangkan perang
tersebut, namun Ia ingin memberikan perlawanan yang berarti terhadap
tentara Amerika supaya tentara Amerika menimbang kembali rencana untuk
menyerang Jepang.
Peperangan di Iwo Jima dimulai oleh tentara
Amerika yang melakukan bombardir pada pulau tersebut. Penyerangan oleh
tentara Amerika dilakukan pada pukul 2 dini hari, waktu setempat,
tanggal 19 Febuari 1945. Bombardir oleh tentara Amerika dilakukan
melalui kapal perang, meriam, roket, dan pesawat tempur. Tentara Jepang
bertahan dalam kubu – kubu pertahanan mereka di gunung Suribachi.
Pagi
harinya, pada pukul 08:59, tentara Amerika mulai mendarat meskipun
masih lebih awal satu menit dari jadwal seharusnya. 30,000 prajurit
marinir Amerika telah mendarat di pantai namun mereka tidak mendapatkan
serangan apapun dari tentara Jepang. Hal ini disebabkan oleh taktik dari
Jendral Jepang Kuribayashi. Jendral Kuribayashi menunggu hingga pantai
dipenuhi oleh prajurit Amerika dan peralatan dari tentara Amerika
sebelum memulai penyerangan. Pada awalnya tentara Amerika tidak menaruh
rasa curiga karena berasumsi bahwa prajurit Jepang di sekitar tempat itu
telah berhasil ditewaskan oleh bombardir yang dilakukan oleh tentara
Amerika.
Taktik itu berhasil membuat tentara Amerika cukup
kebingungan dan kewalahan. Oleh karena posisi bunker tentara Jepang dan
posisi menembak yang baik, banyak prajurit Amerika yang berhasil
ditewaskan oleh tentara Jepang. Selain karena bunker – bunker tentara
Jepang, tentara Amerika juga kewalahan menghadapi serangan tentara
Jepang dari gunung Suribachi. Tentara Amerika kesulitan untuk maju
karena medan yang tidak bersahabat dan dipenuhi oleh abu vulkanik. Abu
vulkanik ini menyebakan tentara Amerika tidak dapat berpijak dengan baik
maupun membangun pertahanan untuk melindungi prajurit Amerika dari
serangan tembakan musuh. Meskipun begitu, abu vulkanik ini juga membantu
tentara Amerika dalam menyerap sebagian tembakan dari artileri (senjata
berat) tentara Jepang.
Tentara Amerika cukup kewalahan dalam
menghadapi tentara Jepang yang bersembunyi di bunker – bunker bawah
tanah.Tentara Amerika menggunakan granat dan penyembur api untuk
membersihkan bunker – bunker tentara Jepang. Namun, tentara Amerika
tidak menyangka bahwa bunker – bunker bawah tanah tentara Jepang
terhubung satu dengan yang lainnya oleh terowongan – terowongan. Hal ini
menyebabkan cukup banyak korban pada tentara Amerika karena mereka
tidak menyangka bahwa bunker yang telah “dibersihkan” akan kembali diisi
oleh prajurit tentara Jepang. Meskipun memakan banyak korban pada pihak
tentara Amerika, namun pada akhirnya prajurit tentara Amerika berhasil
menduduki dari gunung Suribachi pada sore hari itu.
Pada malam
harinya, tentara Amerika mengira bahwa mereka akan menghadapi serangan
banzai dari tentara Jepang. Hal ini dikarenakan serangan banzai telah
menjadi strategi pertahanan tetap dari tentara Jepang pada perang-perang
sebelumnya. Namun ternyata Jendral Kuribayashi melarang untuk
dilakukannya serangan banzai. Jendral Kuribayashi menilai bahwa serangan
banzai tidak berguna.
Perang semakin ganas. Tentara Amerika
menyadari bahwa peluru dan senjata api tidak terlalu berguna dalam
menghadapi tentara Jepang. prajurit Amerika mulai menggunakan granat dan
penyembur api untuk menghadapi prajurit Jepang. Tentara Amerika
memperlengkapi kendaraan tank berukuran sedang mereka dengan penyembur
api yang digunakan untuk “membersihkan” bunker – bunker dan terowongan –
terowongan tentara Jepang.
Semakin lama tentara Jepang semakin
kehabisan air, makanan dan peralatan. Tentara Jepang semakin putus asa.
Jendral Kuribayashi yang semula melarang dilakukannya serangan banzai
mulai menerapkan taktik tersebut. Serangan banzai itu menyebabkan
seringkali prajurit Amerika dan prajurit Jepang harus bertarung dengan
tangan kosong pada malam hari. Namun, kekalahan di pihak tentara Jepang
tetap tak terelakkan.
Tentara Amerika mempublikasikan rencana
untuk menguasai pulau Iwo Jima sebagai pangkalan udara tentara Amerika.
Hal ini membuat banyak orang heran dan bertanya apakah tentara Amerika
tidak dapat mencari tempat lain sebagai pangkalan udara dengan biaya
yang lebih rendah daripada harus menguasai pulau Iwo Jima. Namun, tidak
banyak yang mengetahui bahwa pulau Iwo Jima diperlukan untuk pengiriman
bom Atom Amerika. Pendaratan pesawat B-29 tentara Amerika pada pulau Iwo
Jima memulai strategi pemboman Jepang.